Ibu Betapa Mulianya Engkau....

Kisah ini adalah kisah nyata
sebuah keluarga yang sangat
miskin, yang memiliki
seorang anak laki-laki.
Ayahnya sudah meninggal
dunia, hanya tinggal ibunya
yang sudah tua dan anak laki-
lakinya saja yang saling
menopang.
Ibunya bersusah payah
membesarkan seorang
anaknya, saat itu kampung
tersebut belum memiliki
listrik. Saat membaca buku,
anaknya tersebut hanya
diterangi sinar lampu minyak,
sedangkan ibunya dengan
penuh kasih sayang
menunggui anaknya sambil
menjahitkan baju untuk sang
anak.
Saat memasuki musim gugur,
adalah waktu bagi anaknya
untuk memasuki sekolah
menengah atas.
Tetapi justru
saat itulah ibunya menderita
penyakit rematik yang parah
sehingga tidak bisa lagi
bekerja disawah.
Di sekolah
itu, setiap bulannya murid-
murid diharuskan membawa
30 kg beras untuk dibawa ke
kantin sekolah.
Sang anak
mengerti bahwa ibunya tidak
mungkin bisa memberikan
tiga puluh kg beras tersebut.
Berkatalah ia kepada ibunya:
" Bu, saya mau berhenti
sekolah saja dan membantu
ibu bekerja disawah".
Ibunya
mengelus kepala anaknya
dan berkata :"Niat kamu
sungguh mulia nak, kamu
memiliki niat seperti itu saja
ibu sudah senang, tetapi
kamu tetap harus sekolah.
Jangan khawatirkan ibu ya
nak.Cepatlah pergi daftarkan
ke sekolah nanti berasnya
biar ibu yang akan
mengantarkannya kesana".
Karena anaknya tetap
bersikeras tidak mau
mendaftar ke sekolah, ibunya
pun menampar sang anak
tersebut. Dan ini adalah
pertama kalinya sang anak ini
dipukul oleh ibunya. Dengan
berat hati, akhirnya anaknya
pergi juga kesekolah. Ibunya
terus berpikir dan merenung
dalam hati sambil melihat
bayangan anaknya yang
pergi menjauh.
Tak berapa lama, dengan
terpincang-pincang dan nafas
tergesa-gesa Ibunya datang
kekantin sekolah dan
menurunkan sekantong beras
dari pundaknya, pengawas
yang bertanggung jawab
menimbang beras dan
membuka kantongnya lalu
mengambil segenggam beras
tersebut dan menimbangnya.
Tiba tiba dia berkata :" Hai
wali murid, kami tidak
menerima beras yang isinya
campuran beras dan gabah.
Jangan menganggap kantin
saya ini tempat
penampungan beras
campuran".
Begitu malu nya
sang ibu ini, hingga tak henti
hentinya berkali-kali
meminta maaf kepada ibu
pengawas tadi.
Awal bulan berikutnya ibu ini
memikul sekantong beras
dan masuk kedalam kantin.
seperti biasanya beras
tersebut diteliti oleh
pengawas. Dengan alis yang
mengerut, ibu pengawas
berkata: "Masih dengan beras
yang sama".
Selanjutnya
kalau begini lagi, maka saya
tidak bisa menerimanya".
Sang ibu sedikit takut dan
berkata : "Ibu pengawas,
beras dirumah kami
semuanya seperti ini jadi
bagaimana?
Pengawas itu
pun tidak mau tahu dan
berkata :"Berapa luas sawah
yang ibu kerjakan, sehingga
berasnya bisa bermacam
macam seperti ini".Mendengar sindiran
pertanyaan seperti itu sang
ibu tersebut akhirnya tidak
berani berkata apa-apa lg.
Awal bulan ketiga, sang ibu
datang kembali ke sekolah.Sang pengawas kembali
marah besar dengan kata-
kata kasar dan berkata:"Kamu sebagai wali murid
kenapa begitu keras kepala,
kenapa masih tetap
membawa beras yang sama.Bawa pulang saja berasmu
itu !"
Dengan berlinang air mata
sang ibu pun berlutut di
depan pengawas tsb
dan berkata:"Maafkan saya
bu,sebenarnya beras ini saya
dapat dari mengemis".
Mendengar kata sang ibu,pengawas itu kaget dan tidak
bs berkata apa-apa lagi.Dilihatnya ibu tua tadi duduk
diatas lantai, menggulung
celananya dan
memperlihatkan kakinya
yang sudah mengeras dan
membengkak.Ibu renta tersebut
menghapus air mata dan
berkata:"Saya menderita
rematik stadium terakhir,
bahkan untuk berjalan pun
susah, apalagi untuk
bercocok tanam.Anakku
sangat mengerti kondisiku
sehingga mau berhenti
sekolah untuk membantuku
bekerja disawah.Tapi saya
melarang dan menyuruhnya
bersekolah lagi."Selama ini saya tidak pernah
memberi tahu sanak saudara
yang ada dikampung sebelah.
Lebih-lebih untuk
mengatakannya pada
anakku, aku takut melukai
harga dirinya.
Setiap hari pagi-pagi buta
dengan kantong kosong dan
bantuan tongkat, aku pergi
ke pasar, tempat orang
berjualan beras, hanya untuk
mengemis beras beras yang
tercecer di trotoarnya.
Dengan susah payah aku
mendatangi toko demi toko
hanya utnuk mencari ceceran
itu. Sampai hari sudah gelap,
akupun pelan-pelan kembali
kekampung sendiri. Sehingga
sampai pada awal bulan
semua beras yang terkumpul
memenuhi syarat untuk
diserahkan kesekolah.
Pada saat ibu tua itu
bercerita, secara tidak sadar
air mata Pengawas itupun
mulai mengalir, kemudian
mengangkat ibu tersebut dari
lantai dan berkata: "Bu
sekarang saya akan melapor
kepada kepala sekolah,
supaya bisa diberikan
sumbangan untuk keluarga
ibu."
Sang ibu buru- buru menolak
dan berkata: "Jangan, kalau
anakku tahu ibunya pergi
mengemis untuk sekolah
anaknya, maka itu akan
menghancurkan harga
dirinya. Dan itu akan
mengganggu sekolahnya.
Saya sangat terharu dgn
kebaikan hati ibu pengawas,
tetapi tolong ibu bisa
menjaga rahasia ini."
Akhirnya masalah ini
diketahui juga oleh kepala
sekolah. Secara diam- diam
kepala sekolah
membebaskan biaya sekolah
dan biaya hidup anak
tersebut selama tiga tahun.
Setelah Tiga tahun kemudian,
sang anak tersebut lulus
masuk ke perguruan tinggi
Qing hua dengan nilai 627
point.
Dihari perpisahan sekolah,
kepala sekolah sengaja
mengundang ibu dari anak ini
duduk diatas tempat duduk
utama. Ibu ini merasa aneh,
begitu banyak murid yang
mendapat nilai tinggi, tetapi
mengapa hanya ibu ini yang
diundang.
Yang lebih aneh lagi disana
masih terdapat tiga kantong
beras. Pengawas sekolah
tersebut akhirnya maju
kedepan dan menceritakan
sebuah kisah ttg
seorang ibu yang mengemis
beras demi sekolah anaknya.
Kepala sekolah pun
menunjukkan tiga kantong
beras itu dengan penuh haru
dan berkata kepada para
hadirin seraya menunjuk
pada ibu tadi : "Inilah sang ibu
dalam cerita tadi."
Dan mempersilakan sang ibu
yang luar biasa tersebut
untuk naik keatas mimbar.
Anak dr sang ibu tersebut
dengan ragu-ragu melihat ke
arah gurunya yang sedang
menuntun ibunya berjalan
keatas mimbar.
Sang ibu & sang anakpun
saling bertatapan.
Pandangan
ibu yg hangat dan lembut
kepada anaknya membuat
sang anak tak kuasa untuk
menahan tangisnya,
dipeluknya sosok tua
dihadapannya itu dan
merangkul erat ibunya sambil
terisak seraya berkata:
"Begitu mulianya engkau Ibu,
sungguh aku tak bisa untuk
membalasnya
Copy from Komunitas Pencari Ilmu Dan
Wawasan