80s toys - Atari. I still have
【HOME】[About]
★ Arigato gozaimasu \('o')/
Arigato
Bismillahirrahmaanirrahiim
Di mobil, ketika suami baru
menjemput aku di eki
(stasiun) setelah tiba dari
perjalanan ke luar kota.
“Mas,... tadi ABANG
(panggilan untuk putra sulung
kami) jadi latihan karate
khan?” tanyaku.
“Jadi koog, tau ngga dek,
tadi ABANG waktu dibangunin
tidur siang bilang apa?
Masa’ ABANG baru aja
melek langsung bilang gini,
“Abi, okoshitekurete
arigatou nee”. (Abi udah
bangunin ABANG makasih
yaa…). “Anak itu emang
udah nihonjin (orang Jepang)
banget kog perasaan”,
komentar suamiku.
Aku hanya tersenyum, sambil
membayangkan si ABANG.
“Iyaa bener juga, masa’
cuman perkara dibangunin
dari tidur siang aja begitu
melek masih sempet-
sempetnya inget untuk bilang
arigato (terimakasih), kataku
dalam hati.
***
Aku lantas teringat kejadian
beberapa hari yang lalu
sepulang dari kampus
membawa sisa camilanku
yang tidak habis kumakan di
lab. ABANG menyambutku
sambil bertanya, “Ummi,
kore tabete ii ?” (Ummi, ini
boleh ABANG makan?).
Ketika melihatku
mengangguk si ABANG lantas
berkata “Ummi, arigatou
nee… oishii mono katte
kurete, arigatou” . (Ummi,
makasih yaa udah beliin
ABANG makanan enak).
Deeg,… aku tersenyum kecut
sambil melihat camilan yang
mungkin sudah tidak sampai
sepertiga lagi isinya. “Duuh,
… kesindir anak kecil niih”,
gumamku.
Padahal camilan itu bukanlah
makanan yang mewah atau
enak sekali, dan kurasa cukup
sering aku membelikan anak-
anak panganan kecil
semacam itu. Tapi entah
mengapa, apresiasi yang
diberikan seakan-akan
melebihi apa yang
diterimanya. Hhmm…khas
nihonjin (orang Jepang).
Memang begitulah salah satu
budaya yang baik dari orang
Jepang, lidah mereka terasa
ringan untuk mengucapkan
terima kasih. Jangankan
untuk hal-hal yang besar,
untuk hal-hal sepele saja
orang Jepang mudah sekali
memberikan apresiasi.
***
Contoh yang sering dijumpai
adalah bila kita masuk ke
sebuah toko, walaupun kita
tidak membeli sesuatu,
katakanlah hanya sekedar
window shopping, saat kita
keluar dari toko, pelayan
akan langsung memasang
senyum dan mengucapkan
arigatou gozaimasu (terima
kasih) sambil sedikit
membungkukkan badannya.
Bagi orang Jepang kata-kata
“Terima kasih” lazim
diucapkan sampai tiga kali.
Pertama, disaat mereka
menerima barang atau
bantuan jasa. Kedua, selang
beberapa hari kemudian
biasanya orang Jepang akan
telfon untuk mengucapkan
terima kasih atau pada kasus
terhadap orang yang
dihormati, biasanya mereka
akan mengirimkan kartu pos
tertulis ucapan terima kasih.
Ketiga, saat jumpa kembali,
mereka akan spontan
mengatakan “Senjitsu domo
arigatou” (Terima kasih yaa
untuk kejadian waktu itu).
Duh indahnya,… bila
menerima perlakuan baik,
mereka akan benar-benar
mengingat dan menghargai.
Belum lagi kebiasaan mereka
berbalas hadiah, bila kita
memberikan sesuatu hadiah,
jangan heran bila selang
beberapa hari mereka akan
mengirimkan hadiah balasan
sebagai ungkapan terima
kasih.
***
Coba mari kita buka lembaran
hadist, sebenarnya Rasulullah
manusia agung yang
dirahmati Allah, 14 abad yang
lampau telah mengajarkan
kita. Bahkan lebih baik lagi
karena ucapan terimakasih
itu disertai
“Orang-orang yang paling
banyak bersyukur kepada
Allah ialah orang-orang yang
paling banyak bersyukur/
berterima kasih pada orang-
orang “. (Al-Mu’jam Al
Kabir Lit-Tabrani).
Lantas mengapa kadang kita
masih saja sulit untuk
mengapresiasikan kebaikan
orang-orang di sekeliling
kita?.
Saya teringat keluhan
seorang kawan muslimah
beberapa waktu yang lalu,
“Bu Na, suami saya tuh
kalau ke orang lain perasaan
gampang banget deh bilang
‘Jazakumulloh khoiron
katsiroo” (Semoga Allah
membalas kebaikanmu
dengan lebih baik dan
banyak). Tapi, misalnya kalo
saya abis masak besar untuk
menjamu temen-temen
suami, trus nyuci setumpuk
piring kotor, atau ngebuatin
suami teh manis, hhmm…
boro-boro ada ucapan singkat
‘terima kasih’, suami bisa
noleh sambil senyum aja
sudah bagus banget, eeh,…
yang ada suami terus aja
asyik melototin monitor”.
“Eeeh, bukannya saya ngga
ikhlas lho yaa… tapi khan
seneng aja kalo suami tuh
menghargai pekerjaan kita,
jadi semangat gitu mau
ngapa-ngapain”, tutur
kawan tersebut.
Sebenarnya ini bukanlah yang
pertama kali saya mendengar
curhat yang senada. Memang
benar juga, kadang saya
amati, para bapak acapkali
memandang apa yang sudah
dikerjakan isteri adalah
kewajiban yang sudah
sepatutkan dikerjakan.
Lambat laun akan terlena,
maka hilanglah sudah
ucapan-ucapan terima kasih
dan do’a “jazakillah
khoir” itu.
Coba anda ingat, kapankah
terkahir kali anda
mengucapkan kata-kata
mesra ungkapan terima kasih
penuh do’a pada isteri
anda?. Bila anda sudah lupa,
tunggu apa lagi? Alihkan
sejenak pandangan anda dari
layar monitor ini. Lantas
segeralah buzz atau telfon
isteri anda, dan katakanlah…
insyallah sepulang anda
kerja, isteri anda akan
menyambut dengan mesra
dan penuh kehangatan.
................
by : Kirana Ummu Syahid
nb : "Mas, buat laundry
service selama 8 tahun ini,
ade do’ain jazakalloh
khoir ... kore karamo
yoroshiku nee…." ^__^
***
Sumber Oase Iman .....

SEO Stats powered by MyPagerank.Net
visitor daily : 2
visitor total : 733
Your browser :
Mozilla/5.0 AppleWebKit/537.36 (KHTML, like Gecko; compatible; ClaudeBot/1.0; +claudebot@anthropic.com)

[Home]


Not copyright 2011
Ensiklopenana.yn.lt
-All Right Not Reserved-

baca gratis baca online ebook gratis mp3 ringtone arrikel islami handphone tips trik peluang usaha entrepreneur kata mutiara wisata baca online download gratis